Mei 20, 2009 / Label: about
privacy
Privacy Policy for gerinja.blogspot.com
If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at ghobro@gmail.com.
At gerinja.blogspot.com, the privacy of our visitors is of extreme importance to us. This privacy policy document outlines the types of personal information is received and collected by gerinja.blogspot.com and how it is used.
Log Files
Like many other Web sites, gerinja.blogspot.com makes use of log files. The information inside the log files includes internet protocol ( IP ) addresses, type of browser, Internet Service Provider ( ISP ), date/time stamp, referring/exit pages, and number of clicks to analyze trends, administer the site, track user’s movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.
Cookies and Web Beacons
gerinja.blogspot.com does not use cookies.
Some of our advertising partners may use cookies and web beacons on our site. Our advertising partners include Google Adsense, .
These third-party ad servers or ad networks use technology to the advertisements and links that appear on gerinja.blogspot.com send directly to your browsers. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies ( such as cookies, JavaScript, or Web Beacons ) may also be used by the third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertisements and / or to personalize the advertising content that you see.
gerinja.blogspot.com has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.
You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. gerinja.blogspot.com's privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites.
If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites.
Mei 16, 2009 / Label: politics
Prioritas Penanganan Negara bagi Capres/Cawapres mendatang
Tiga pasangan Capres/Cawapres untuk Pilpres 2009 sudah sama-sama kita ketahui, yakni JK-Win (Jusuf Kalla dan Wiranto), SBY-No (Soesilo Bambang Yudhoyono dan Boediono) serta Mega-Pro (Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto). Pemilihan presiden secara langsung ini menaruhkan harapan untuk perbaikan Indonesia ke depan.
Yang menarik dapat kita lihat dari perseteruan dua bekas teman, SBY-JK. Jusuf Kalla yang memahami perlunya mengisi seseorang yang mengerti dunia kemiliteran untuk stabilitas keamanan Indonesia mengambil Jenderal Wiranto sebagai partner. Sebagai mantan Panglima ABRI, Wiranto sedikit banyak memiliki pengalaman dan kharisma di dunia militer. Oleh karenanya, kasus-kasus seperti demo prajurit yang terjadi di Papua tidak perlu terjadi. Stablilitas keamanan ini perlu untuk pembangunan ekonomi di masa kepemimpinannya. Dan Wiranto telah membuktikan kemampuannya sebagai pengendali militer padahal masa-masa yang dihadapinya adalah masa peralihan, masa yang paling rawan dalam sejarah keamanan Indonesia, karena berpotensi meningkatnya anarkis dan masuknya anasir-anasir asing yang ingin memecah belah Indonesia.
Sebaliknya SBY yang pecah dari JK, juga menyadari bahwa dia perlu seorang yang mengerti ekonomi untuk menutupi kelemahan di sisi ini. Boediono telah terbukti sebagai ekonom yang handal. Dibandingkan MegaPro yang sisi pemasangannya murni pasangan politik, kedua pasangan SBY-No dan JK-Win betul-betul mencerminkan pasangan yang saling mengisi.
Warisan Kebobrokan Indonesia
Indonesia mewarisi sejumlah kebobrokan dari Hindia Belanda, Orde Lama dan Orde Baru yang sangat akut diantaranya :
1. Utang luar negeri yang menumpuk
2. Sistem pembayaran gaji yang amburadul
3. Sistem reward yang tidak berjalan
4. Enterpreneurship yang lemah
Utang Luar Negeri
Utang luar negeri Indonesia yang diwarisi dari Hindia Belanda 4,8 miliar USD. Hutang senilai Rp. 44 triliun baru lunas tahun 2003 lalu.
Mei 13, 2009 / Label: politics
Perbandingan sikap Capres terhadap Isu-isu penting
Ada 4 isu penting yang dapat dijadikan patokan tentang sikap-sikap para capres :
1. Ekonomi :
- Ekonomi kerakyatan, pendukung : Megawati Soekarnoputri.
- Ekonomi pertanian/agraris, pendukung : Wiranto.
- Ekonomi neoliberalis (pertumbuhan):SBY
- Ekonomi pedesaan : Sri Sultan:
- Ekonomi nasionalis : Prabowo
- Ekonomi bertumpu pengusaha: JK.
2. Korupsi:
- Pemberantasan korupsi : SBY, JK, Wiranto, Sri Sultan.
- Fleksibel dalam penuntasan : Megawati, Prabowo.
3. Investasi asing:
- Menerima : JK, SBY.
- Mengendalikan : Megawati, Sri Sultan.
- Kemandirian ekonomi : Wiranto, Prabowo.
4. Kemiskinan:
- Pengalihan subsidi: Prabowo.
- Peningkatan pajak : JK.
- Harus dilawan: SBY.
- Penyediaan lapangan kerja dan SDM: Megawati.
- Peningkatan peran desa : Sri Sultan.
- Memperkuat ketahanan pangan : Wiranto
Pasangan Capres Cawapres
Di antara para tokoh-tokoh yang ada, yang sudah jelas barulah JK - Wiranto yang memiliki moto JK Win. Sri Sultan besar kemungkinan tidak ikut serta, sementara Prabowo dan Megawati masih tolak ulur. SBY diperkirakan akan maju bersama Boediono.
Dengan kondisi seperti itu, yang dapat kita analisis baru pasangan JK Win.
Pemberantasan Korupsi
Kedua-dua pasangan ini sama-sama bertekad untuk memberantas korupsi. Malahan Wiranto mengusulkan untuk memberikan hukuman mati bagi koruptor kakap. Menilik sikap JK selama berpasangan dengan SBY, niat JK tersebut mungkin benar. Selama memegang Golkar, JK pun sepertinya dapat mengendalikan anggotanya di parlemen. Boleh dikatakan hampir tidak terlihat lagi politisi Golkar yang terlibat korupsi, kecuali Azwar Chespustra yang baru-baru ini dijadikan tersangka. Nila ini wajar, karena Demokrat pun punya Johny Alley Marbun yang juga tersandung.
Dari sejarah keduanya, JK dan Wiranto selama ini belum pernah terdengar berdekatan dengan kasus-kasus uang haram. Entahlah, kalau sejarah nantinya membuktikan lain.
Investasi Asing
Terhadap isu investasi asing, JK dan Wiranto memiliki pandangan berbeda. JK bertujuan untuk meningkatkan investasi asing ke Indonesia, sebaliknya Wiranto berniat untuk menjaga kemandirian ekonomi, terutama di bidang ketahanan pangan. Namun, akhir-akhir ini JK merilis bahwa dia telah mencegah masuknya investasi asing di bidang perminyakan, di mana JK mengusahakan agar projek tersebut dipegang Pertamina. Bagaimana penyesuaian ide kedua tokoh ini, kita lihat saja nanti.
Ekonomi
Menurut JK, pengusaha memiliki peran penting dalam penguatan ekonomi. Oleh karenanya harus dipacu pertumbuhan pengusaha-pengusaha muda untuk memperkuat ekonomi Indonesia. Wiranto lebih menekankan kemandirian ekonomi dengan jalan menumpukan ekonomi pada sektor pangan.
Kemiskinan
Menurut JK, kemiskinan dapat diselesaikan dengan segera. Untuk pewujudannya, harus ditingkatkan pendapatan dari pajak dan cukai. Sebaliknya, Wiranto berpendapat, kemiskinan timbul karena ketahanan pangan yang lemah. OLeh karenanya, untuk memperkuat kemakmuran, kuatkan pangan.
Mei 10, 2009 / Label: politics
Beroposisi, mengamankan kepentingan negara
Beroposisi merupakan pilihan yang seakan-akan mau dihindari oleh partai-partai politik karena masyarakat Indonesia yang masih memandang kotor politik, oleh karenanya partai oposisi cenderung akan dianggap "hanya karena tidak diberi kesempatan". Padahal oposisi sangat diperlukan bagi kelanjutan bangsa dan negara, agar pemerintah tidak berlaku sewenang-wenang. Rencana koalisi beroposisi yang dibangun Golkar, PDIP, Hanura dan Gerindra adalah langkah maju dalam politik Indonesia, dengan catatan bahwa mereka akan konsisten mulai dari sekarang.
Kepentingan Kelompok dan Pribadi
Tantangan besar yang dihadapi kelompok koalisi-koalisi saat ini adalah adanya kepentingan kelompok dan individu pada internal partai-partai anggota koalisi. Periode 2004-2009 kita melihat, Golkar yang semula bersama PDIP, tiba-tiba saja berkhianat setelah kepemimpinan Golkar berhasil direbut oleh Jusuf Kalla yang saat itu Wakil Presiden. Padahal apabila koalisi tersebut diteruskan, dengan posisi Golkar yang memimpin DPR saat itu, oposisi akan menjadi sangat efektif.
Nilai-nilai Oposisi
Mengapa harus beroposisi harus dijelaskan kepada masyarakat. Bahwa kelompok yang beroposisi memiliki sejumlah nilai-nilai demi kemajuan bangsa dan negara yang akan dipertahankannya adalah alasan logis yang akan menjadi pertimbangan masyarakat.Nilai-nilai tersebut harus jelas, baik di bidang kebijakan luar negeri, ekonomi, sosial, pertahanan, pertanian, politik dan sebagainya. Oleh karenanya, oposisi selanjutnya adalah usaha untuk memperjuangkan atau mempertahankan nilai-nilai tersebut. Bukan sekedar untuk tampil beda.
Tidak harus berseberangan
Menjadi oposisi tidak harus berseberangan selalu dengan penguasa. Ada saatnya kaum oposisi harus dengan cepat memuji dan membela usulan pemerintah yang sejalan dengan nilai-nilai perjuangan mereka. Jika nilai-nilai perjuangan oposan sudah jelas dari awal, dan masyarakat sendiri mengetahui bahwa usulan atau pun kebijakan pemerintah tersebut sejalan dengan nilai-nilai perjuangan oposan, dengan mempertahankan dan menyambut usulan tersebut bisa jadi simpati masyarakat akan berbalik kepada kaum oposisi. Dan selanjutnya, masyarakat pun akan menghargai oposisi, sebab citra oposisi sebagai penghambat pemerintah ternyata tidak selamanya salah. Menjadi oposisi adalah suatu alasan karena antara oposan dan penguasa berbeda nilai, dan menurut oposan nilai tersebutlah yang paling benar.
Tantangan
Kita belum tahu siapa yang akan menjadi oposisi, apakah kelompok 4 besar, atau kelompok 3+2. Namun sejatinya oposisi yang muncul saat ini adalah gabungan partai-partai kecil yang tidak lulus PT karena mereka semua memiliki isu yang sama, yakni rasa ketidakadilan akibat adanya aturan PT. Dan juga karena peluang mereka untuk diajak ikut serta dalam pemerintahan juga sangat tipis. Sebaliknya anggota kelompok 4 besar ataupun kelompok 3+2 yang memiliki peluang untuk diajak ikut serta, berpotensi untuk meninggalkan kelompoknya dan secara pragmatis ikut ke dalam kelompok yang menguntungkan mereka.
Sederhana tetapi diperumit
Sebenarnya nilai-nilai yang akan diperjuangkan partai-partai pada dasarnya hanya dua seperti :
nilai 1<->nilai 2
menerima utang luar negeri <->menolak utang luar negeri
beras mahal untuk melindungi petani<-> beras murah untuk melindungi buruh/pekerja
monopoli untuk melindungi produsen<->anti monopoli untuk melindungi konsumen
mempersulit impor (membela produsen) <-> membebaskan impor (melindungi konsumen)
dominasi perusahaan negara <-> kebebasan dan keadilan berusaha
anti pemekaran <-> pro pemekaran
Masyarakat tetap membutuhkan alternatif-alternatif untuk nilai-nilai tersebut. Sebagai contoh, sebagian masyarakat mungkin tidak mau menerima utang luar negeri demi kemajuan masa depan, sementara sebagian lainnya lebih memikirkan kondisi real ekonomi bangsa saat ini.
Kondisi politik tanpa nilai
Merebaknya golput dan masyarakat penggemar money politic saat ini adalah karena tidak jelasnya partai-partai yang mempertahankan nilai-nilai seperti dikemukakan. Setiap partai yang ada bisa saja bergabung atau berlawanan, penggabungan atau perlawanan tersebut adalah akibat adanya perbedaan nilai. Tetapi penggabungan atau perlawanan tersebut nyata-nyata karena adanya perbedaan kepentingan. Oleh karenanya, masyarakat kemudian menjadi bingung harus memilih apa. Oleh karenanya, pilihan praktis bagi masyarakat, memilih mereka yang memberi uang/materi, memilih pelawak atau artis dan sebagainya. Bagi mereka yang sedikit memiliki ideologi, tentu saja golput adalah pilihan yang paling menarik.
Harapan
Pasca pilpres 2009, sebagai bagian dari anggota bangsa ini, saya berharap politisi-politisi yang ada memberikan jawaban sederhana untuk memberikan pilihannya dengan jalan menjadi oposisi atau partisipasi sesuai dengan nilai-nilai. Oleh karenanya, masyarakat tinggal memilih nilai-nilai mana yang menurut mereka lebih benar. Oleh karenanya, ketika pemilihan tiba, mereka sudah jelas apa yang akan dipilihnya.
Mei 08, 2009 / Label: politics
Langkah Megawati dan Masa Depan PDIP
Megawati bukanlah satu-satunya penyandang nama Soekarno di belakang namanya. Namun kenyataannya, hanya Megawatilah yang saat ini dianggap sebagai representasi tokoh perjuangan Indonesia yang terkenal dengan gerakan marhaenismenya tersebut. Tapi nama besar Soekarno bukan jaminan bagi Megawati untuk mencapai RI1. Bahkan jika salah langkah, bukan tidak mustahil PDIP yang dipimpin Megawati akan terpuruk menjadi partai papan menengah atau mungkin saja lebih rendah dari itu.
Jasmerah
Pidato paling diingat orang dari almarhum BK adalah Pidato yang bertajuk Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Megawati sebagai putri Bung Karno tentu menyadari hal itu. Sayangnya, kesadaran itu seakan-akan tidak diterapkannya di lapangan.
Karakter umum bangsa Indonesia yang selalu tidak memberi harapan kepada pecundang harus diwanti-wanti oleh Megawati. Kegagalan Megawati selama memimpin Indonesia berbanding terbalik dengan keberhasilan Soesilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Oleh karenanya, jika Megawati memaksakan diri untuk tampil, maka hal yang memalukan akan dihadapi oleh Megawati serta PDIP. Kekalahan yang akan dihadapi oleh Megawati akan jauh lebih telak dan menyakitkan. Tampil sebagai oposisi pada periode berikutnya akan justru menyulitkan bagi pemenangan pemilu PDIP 2014. Langkah-langkah oposisi Megawati akan dicap negatif oleh masyarakat dan akan mudah dimanfaatkan bagi lawan-lawan politik PDIP.
Manuver Hatta Rajasa
Kunjungan Hatta Rajasa baru-baru ini penuh rahasia. Ungkapan Pramono Anung bahwa akan ada kejutan, betul-betul mungkin saja dalam realisasinya. Kita tidak tahu, dalam kapasitas apa Hatta datang kepada Megawati, apakah sebagai utusan Demokrat ataukah utusan PAN.
Jika scenario pertama, bahwa kedatangan Hatta Rajasa sebagai utusan Demokrat maka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bias beragam. Mungkin saja, SBY ingin meminang Megawati sebagai Cawapres. Hal ini bukannya tidak mungkin. PKB yang sedang mempersiapkan organisasi parpolnya tentu mungkin tidak akan memiliki pilihan lain selain mendukung. Demikian pula PKS yang memang ingin mendompleng kesuksesan SBY untuk kebesaran partainya. PAN dan PPP yang memang sejak semula ingin berkoalisi dengan PDIP akan diuntungkan karena perbedaan pendapat di dalam kubu partainya akan menjadi reda.
Tapi bagaimana dengan orang-orang PDIP sendiri, meski di dalam tubuh PDIP ada oportunis, namun tingkat oportunitas orang-orang PDIP tidaklah setinggi Golkar. Para politisi PDIP justru akan khawatir dengan scenario ini. Ingat, bagaimana Jusuf Kalla yang bekerja mati-matian tetapi hanya mendapat pahitnya saja karena berkoalisi dengan Demokrat. Suara Golkar turun drastis. Apalagi Megawati, selain meruntuhkan citra Megawati sebagai seorang penggila kekuasaan karena mau turun panggung menjadi Wapres, juga akan dijadikan manuver bagi lawan-lawan politiknya bahwa PDIP betul-betul partai yang tidak bias bekerja. Segala keberhasilan SBY akan diklaim Demokrat dan PKS yang termasuk cukup pandai memanfaatkan isu. Dengan demikian, di 2014 PDIP akan turun drastic. Sebaliknya, Demokrat akan semakin diuntungkan, karena dengan kesediaan Megawati koalisi besar yang disusun bersama dengan Golkar, Gerindra dan Hanura otomatis bubar dengan sendirinya.
Skenario kedua kerjasama PDIP dengan Demokrat adalah penempatan wakil di kementerian. Skenario ini pun tidak akan menguntungkan PDIP karena bagaimanapun akan susah mengklaim keberhasilan menteri tanpa keberhasilan presidennya.
Koalisi dengan PAN dan PPP
Partai Persatuan Pembangunan dan PAN saat ini sedang terbelah. Kedatangan Hatta Rajasa ke Megawati mungkin saja membuka pembicaraan baru dengan kemungkinan Hatta Rajasa sebagai wakilnya Megawati. Namun kalau dilihat dari arahnya, kemungkinan ini dijadikan PAN sebagai alternative seandainya Hatta gagal dipinang SBY. Jika ini yang terjadi, pasangan ini akan betul-betul hancur.
Megawati sebagai orang yang pernah dicap gagal dan Hatta sebagai orang yang ditolak atau orang pelarian tentu akan merupakan isu yang paling gampang dikembangkan oleh Demokrat. Dengan kondisi seperti itu, bisa jadi pasangan ini akan gagal di putaran pertama. Apalagi kalau mengingat kedua partai pendukungnya adalah partai yang sama-sama diterpa tsunami Demokrat.
Koalisi dengan Gerindra
Koalisi PDIP dengan Gerindra sepertinya terhalang oleh keinginan untuk sama-sama menjadi Capres. Prabowo tentu saja akan menolak menjadi wapresnya Megawati karena pilihan tersebut adalah pilihan yang mubazir bagi Gerindra. Semua investasi yang dikeluarkan Gerindra akan hangus kalau saja keputusan itu yang diambil. Dalam berbagai analisis, Prabowo adalah alternative yang memungkinkan untuk mengalahkan SBY, tentunya dalam posisi sebagai capres. Sebaliknya jika, Prabowo turun menjadi wapres, pemilih yang menginginkan presiden alternative akan merasa kecewa dan akan mengambil salah satu dari tiga alternative pemuasan kekecewaan, yakni mendukung SBY, mendukung JKWin atau Golput.
Prabowo – Puan
Meski Prabowo – Rizal Ramli didukung Gerindra dan koalisi partai-partai kecil yang kemungkinan akan dapat memuluskan langkah Gerindra mencalonkan Prabowo, namun tingkat keterpilihan pasangan ini akan menjadi kecil, karena nama Rizal Ramli tidaklah popular di daerah. Sebaliknya meskipun Puan Maharani meski pendatang baru di kepilpresan, namun bila diusung oleh PDIP, bukan mustahil pasangan ini akan menjadi kejutan baru di Pilpres 2009. Bahwa di samping unsur politis, tipikal pemilih Indonesia seringkali membuat pilihan-pilihan yang tidak berdasarkan alasan politis. Lihatlah misalnya dalam pemilihan DPD, calon-calon yang kebetulan memiliki wajah lumayan mendapatkan suara yang cukup signifikan. Dari segi wajah, Prabowo dapat menandingi SBY untuk memperebutkan suara ibu-ibu, dan Puan Maharani akan memikat kaum pria. Kemenangan dari sisi ini akan mempermudah Tim Suksesnya dengan menambahkan charisma BK, Prof. Soemitro, sosialisme/marhaenisme yang menjadi ideology Gerindra/PDIP dan sebagai alternative bagi kaum yang memang ingin selalu beda.
Mei 06, 2009 / Label: politics
Antasari dan Anshari | KPK dan KPU
Kenapa pembunuhan Nasruddin terjadi saat KPK berencana mengaudit KPU? Secara kebetulan, ataukah disengaja. Yang jelas, kasus Antasari menghentikan usaha KPK untuk mengaudit KPU, setidaknya untuk sementara waktu. Kita tidak bisa melihat bagaimana kelanjutan kasus Antasari. Yang jelas, dengan adanya kasus ini, media sepertinya dengan sengaja membesar-besarkan kasus ini, sehingga permasalahan bangsa yang besar, yakni ketidakbecusan kinerja KPU menjadi dianggap angin lalu. Padahal, efek dari ketidakbecusan KPU ini sangat besar artinya bagi bangsa. Meski nama kedua lembaga ini hanya berselisih sedikit, tetapi dari segi prestasi ibarat langit dan bumi. KPK berhasil menjadikan lembaga ini menjadi lembaga yang paling pantas diacungkan jempol, sebaliknya KPU menjadikan lembaga ini menjadi lembaga yang pantas diacungkan pantat. KPK dan KPU sama-sama berhasil membuat nama besar. KPK besar dengan menyeret koruptor-koruptor besar. KPU dengan membuat kesalahan-kesalahan besar. Dengan berbagai kasus yang terjadi di KPU, misalnya: Anehnya, dengan berbagai kasus tersebut, personil KPU ngotot dipertahankan. Sebaliknya KPK berhasil mengungkit berbagai kasus besar: Anehnya, dengan gampangnya Ketua KPK tergeser. Terjadinya kasus Antasari membuka nuansa lain. Bila sebelumnya, jaksa terlihat lamban, di mana seseorang yang jelas-jelas tersangka dan memerlukan pencekalan bisa lolos hanya karena permasalahan administrasi, aneh bin ajaib, untuk kasus Antasari, jaksa bisa langsung mengeluarkan perintah pencekalan, padahal Antasari belum dipanggil pun sebagai saksi. KPK dan KPU || Prestasi dan Tidak Berprestasi
KPK dan KPU || Pergeseran Pemimpin
Sikap proaktif Jaksa
Mei 02, 2009 / Label: politics
Jusuf Kalla blog
Jusuf Kalla, Indonesia's vice president and candidate for Indonesia's president 2009 - 2014 release his blog at jusufkalla.kompasiana.com. This is a progress for Indonesia. The more Indonesian figures understand internet as alternative media.
Kalla step further than others. He appreciate Indonesian's blogger by a outing.
Kalla appearing in this virtual word provide new light for world which usually dominated by PKS supporter. Hopefully, appear the new feel on blogging.
